Recent Posts

Liga-Ligaan Resmi Dihentikan

No comments
Tiada hari tanpa laga tarkam. Mungkin kalimat tersebut begitu berlebihan. Tapi, kenyataannya memang begitu adanya yang terjadi di Kabupaten Purworejo. Pada setiap sore hari, bisa ditonton dengan gratis lapangan yang dipenuhi orang-orang yang sedang bertanding, atau sekadar menendang bola. Di daerah lain mungkin juga tidak jauh beda keadaannya.

Yang jadi masalah, yang mungkin juga terjadi di daerah lain, dalam dua tahun belakangan ini sepak bola Purworejo kehilangan induknya. Pengcab PSSI Purworejo yang harusnya jadi induk sepak bola mengalami kekosongan setelah masa jabatan habis pada Agustus 2012. Parahnya, musyawarah sebagai awal pembentukan pengurus tidak kunjung diadakan hingga akhir tahun 2014 ini. Imbasnya kompetisi internal ikut kosong, tidak digelar. Beruntungnya, turnamen antar tim desa rutin digelar di beberapa kecamatan. Meski begitu, masih banyak tim dan pemain yang belum terwadahi.

Laga-laga tarkam lah yang kemudian mewadahi mereka dan sedikit menghidupkan sepak bola Purworejo setiap harinya.

Berawal dari itu kemudian penulis mendapat ide untuk lebih menyemarakkan lagi sepak bola di Purworejo ini. Kenapa tidak laga-laga tarkam ini dikemas menjadi liga? Dengan sistem kompetisi penuh dan format kandang-tandang, hal yang belum pernah dilakukan di sini. Hanya saja liga ini tanpa hadiah, pesertanya juga tidak dipungut biaya pendaftaran. 

Kenapa tidak dipungut biaya? Alasannya karena liga ini hanya liga-ligaan yang digelar secara sederhana dengan memanfaatkan semarak laga-laga tarkam. Selain itu, ada hal lain yang menjadi  sebab kenapa kemudian ada ide ini. Alasan dari pengurus PSSI Purworejo yang selalu mempermasalahkan dana sebagai kendala untuk pengadaan kompetisi membuat penulis ingin menunjukkan bahwa dengan tidak ada dana pun para tim mau dan mampu ‘berkompetisi’. Mereka bisa mandiri.

Liga-ligaan, itulah yang sejak awal penulis dengungkan, tapi bukan liga tandingan seperti yang akhir-akhir ini sedang menjadi tren.

Ide liga-ligaan tersebut kemudian coba dipromosikan melalui akun facebook Liga Purworejo. Respon yang muncul bervariatif. Ada yang langsung setuju, ada yang bertanya soal hadiah, ada pula yang tidak tertarik. Tapi banyaknya respon positif yang muncul semakin memantapkan langkah untuk benar-benar menggelar liga-ligaan ini. 

Dengan memanfaatkan layanan online melalui situs ini, pendaftaran kemudian dibuka dan disebar di akun facebook dan twitter Liga Purworejo. Setelah sekitar sebulan lebih berjalan, terdapat sebanyak 29 tim yang mendaftar. Dan Liga Purworejo dijadwalkan mulai pada bulan April, dibuka dengan laga Liga Utama yang diikuti 12 tim (sisanya masuk ke Liga Pratama yang pembagiannya disesuaikan berdasar anggota atau bukan anggota PSSI Purworejo).

Tepat pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014 laga pertama digelar. Laga pembuka Liga Utama ini mempertemukan Corseka FC dari Kalijambe, Bener yang menjamu Seribu Daya FC dari Kemiri. Laga yang nyaris tidak jadi digelar di Lapangan Kaliboto, Bener ini akhirnya dimenangkan oleh tim tamu dengan skor telak, tujuh gol tanpa balas. 

Pelaksanaan liga-ligaan yang sederhana ini bukan tanpa kendala. Baru pekan pertama saja ada beberapa tim yang menyatakan tidak siap, bahkan ada pula yang mengaku belum melihat jadwal. Padahal, jadwal sudah diberikan beberapa minggu yang lalu. Pekan-pekan berikutnya tak jauh beda, banyak laga yang akhirnya ditunda. Sebuah hal yang bisa dimaklumi karena sejak awal memang sudah disampaikan bahwa jadwal bisa dibatalkan sesuai dengan kesepakatan dua tim yang bersangkutan. Peserta Liga Utama pun satu-persatu berkurang, hingga akhirnya tersisa sembilan tim. 

Berbeda dengan Liga Pratama yang terdiri dari dua grup, delapan dan sembilan tim, yang pembagiannya didasarkan pada wilayah. Pelaksanaan Liga Pratama bisa dibilang cukup lancar pada putaran pertama. Laga perdana dimulai sepekan setelah mulainya Liga Utama. Ada tiga laga yang dimainkan, yaitu di Kutoarjo, Bagelen, dan Purwodadi. Di Kutoarjo, tuan rumah FC Gareseta ditahan imbang 1 – 1 oleh GFC U17. Di Bagelen, Persega dari Grabag mencuri poin penuh dengan mengalahkan Gatuyo FC 3 – 1. Begitu juga di Purwodadi, tim tamu Bugel Village mempermalukan tuan rumah Putro Pendowo FC dengan skor 4 – 1.

Pekan-pekan berikutnya laga putaran pertama Liga Pratama lancar dimainkan hingga selesai pada akhir Juni. Begitu juga dengan Liga Utama yang dianggap selesai meski banyak laga yang ditunda. Liga-ligaan kemudian diliburkan karena juga bertepatan dengan bulan puasa.

Setelah jeda, dan sempat mundur sebulan, putaran kedua dimulai pada awal Oktober. Memasuki putaran kedua ini, ada beberapa tim yang memutuskan mundur dengan beberapa alasan. 

Ada yang hilang tanpa kabar bahkan saat dikontak pun tidak ada balasan. Ada pula yang kehabisan pemain karena pada merantau. Sudah jadi tradisi memang, bulan setelah lebaran adalah waktu di mana pemuda-pemudi yang kebanyakan baru saja lulus dari SMA/SMK Purworejo keluar kota mencari rezeki. Tidak ketinggalan mereka yang sering bermain sepak bola. Di sisi lain, bulan Agustus – Oktober merupakan waktu digelarnya turnamen antar-desa di beberapa kecamatan. Hal ini juga cukup mengganggu pelaksanaan laga Liga Purworejo karena kebetulan beberapa lapangan yang dipakai tim peserta digunakan untuk turnamen.

Hingga akhirnya pada akhir November, Liga Purworejo resmi dihentikan sesuai dengan jadwal yang sudah dipublikasikan. Total ada 81 laga (Utama: 19, Pratama: 62) yang telah dimainkan dengan 298 gol (Utama: 61, Pratama: 237) yang dicetak. Berikut data klasemen akhirnya:



(data lebih lengkapnya bisa dilihat di purworejo.leaguerepublic.com)

Itulah sekilas tentang liga-ligaan ‘Liga Purworejo’. Liga-ligaan yang bisa dijadikan bukti bahwa ternyata sistem kompetisi penuh bisa diaplikasikan pada kompetisi sepak bola di Purworejo ini. Ternyata dengan tanpa dana pun yang seolah bisa disebut kompetisi bisa digelar. Tidak seperti yang sudah-sudah. 

Banyaknya kendala yang muncul tidak terlepas dari pengelolaan tunggal dan komunikasi yang hanya dilakukan melalui akun sosial media dan ponsel saja oleh penulis. Melalui tulisan ini pula penulis memohon maaf kepada semua pemain dan pengurus tim yang sudah mau meramaikan liga-ligaan ini karena belum mampu memberikan yang terbaik. 

Harapan untuk sepak bola Purworejo yang lebih baik tentu selalu ada dari diri penulis. Dan harapan itu semoga bisa diwujudkan oleh pengurus baru PSSI Purworejo yang akhir tahun ini dibentuk. Penulis berharap para pengurus baru PSSI Purworejo mau dan mampu mengelola sepak bola Purworejo. Karena pada dasarnya, para pemain hanya butuh kompetisi yang lebih menarik dan kompetitif tentunya. Kompetisi yang rutin digelar setiap tahunnya. Hal yang sederhana, seharusnya. Atau mungkin, liga-ligaan ini memang perlu digulirkan kembali.

---
Ditulis oleh: @aritsantoso.

New Season, New Life!

No comments

Hijau. Warna yang menjadi simbol keseimbangan, pertumbuhan, dan pembaruan. Begitu juga dengan kehidupan, hidup yang seimbang adalah hidup yang paling menyenangkan. Tidak berlebih pada satu sisi. Pada kehidupan, juga akan selalu muncul sesuatu yang baru, atau memang sengaja dibuat menjadi baru.  Musim pun selalu berganti, meski hanya berputar dari hujan ke kemarau, lalu kembali lagi.

Kini musim hujan mulai datang, rumput hijau pun mulai membentang. Ya, lapangan kini sudah menghijau kembali setelah dikeringkan oleh kemarau yang lumayan panjang. Semangat baru tentunya bagi kawan-kawan penyepak bola, meski kadang hujan menjadi penghalang.

Musim hujan juga sebagai pertanda tahun yang akan berganti. Tahun yang sekarang ini tinggal berumur beberapa hari, akan diganti dengan tahun yang baru. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan selama tahun ini akan menjadi sejarah dan akan diperbaru dengan kegiatan-kegiatan lainnya di tahun baru.

Sudah banyak turnamen sepak bola yang digelar di beberapa penjuru Kabupaten Purworejo. Mulai dari turnamen terbuka, maupun turnamen tingkat kecamatan. Puncaknya pada beberapa hari lalu saat akhirnya Pengcab PSSI Purworejo yang lebih dari dua tahun tertidur lelap mulai bangkit kembali dengan dipilihnya ketua umum yang baru melalui musyawarah anggota. Harapan baru, mungkin bisa dibilang begitu.

Memanfaatkan momentum inilah, Liga Purworejo mengubah wajah dengan tampilan yang lebih sederhana sebagaimana permainan sepak bola itu sendiri dan tetap dengan menonjolkan warna hijau sebagai simbol dari sepak bola. Tentunya tidak hanya wajah yang berubah, tapi jiwa dan semangatnya juga menjadi baru dengan harapan agar ke depannya Liga Purworejo bisa lebih menjadi wadah yang bermanfaat bagi kawan-kawan penikmat sepak bola di Kabupaten Purworejo.

Musim baru, kehidupan baru, semangat baru!

Kesederhanaan di Tempat yang Sederhana

No comments
Bener merupakan salah satu kecamatan yang berada di titik paling luar Kabupaten Purworejo. Terletak di sebelah utara tepatnya dan berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Keadaannya masih sederhana, kebanyakan. Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit menambah kesederhanaan daerah yang dibagi dalam beberapa desa ini. Begitu juga kalau bicara soal sepak bola di sana.

Aktivitas sepak bolanya cukup tinggi, terlebih dengan adanya turnamen antar tim desa-desa di sana. Salah satu turnamen tingkat kecamatan yang aktif di Kabupaten Purworejo. Bahkan lebih aktif daripada Kecamatan Purworejo yang merupakan pusat dari Kabupaten Purworejo. Tahun ini merupakan edisi keempat secara berturut-turut. 

Hanya saja, pelaksanaan turnamen ini masih sangat sederhana. Hal itu bisa dilihat saat pelaksanaan pertandingan yang tampak seperti latih tanding biasa. Jangankan ada pengeras suara, panitia pun seadanya, juga berbagai aspek lainnya. 

Bila dibandingkan dengan turnamen di kecamatan lain, cukup jauh bedanya. Turnamen di Kecamatan Bagelen contohnya. Di sana, panitia menyajikan Kridatama Cup (nama turnamennya) dengan apik layaknya turnamen. Mulai dari tempat panitia, tempat pemain cadangan, wasit yang lengkap, pengeras suara, hingga komentator layaknya yang ada di televisi. Hal-hal yang meningkatkan daya tarik masyarakat sekitar untuk datang menyaksikan. 

Meski begitu, penyelenggaraan yang sederhana bukan menjadi penghalang akan munculnya pemain-pemain berbakat. Digelarnya turnamen ini juga berimbas pada mulai munculnya tim-tim baru dari desa lainnya. Yang artinya, muncul juga pemain-pemain baru yang selama ini jarang tampak. Peta persaingan kekuatan tim-tim di sana pun mulai merata.

Laga final kemarin menjadi salah satu penunjuknya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, final turnamen Bener Cup selalu mempertemukan rival seteru, Corseka dan Bratanero. Tim-tim lain kewalahan menghadapi dua tim kuat yang berasal dari desa yang sama ini. 

Tapi tidak dengan tahun ini, beberapa tim sudah mulai dapat memberikan perlawanan. Bahkan, ada yang berhasil menundukkan satu dari dua tim terkuat itu. Adalah Batatama yang mulai mengusik hegemoni dua tim sedesa itu. Meski kemudian di final mereka kalah dari Bratanero, tapi mereka tidak kalah bermain apik dan memaksa Bratanero imbang tanpa gol. 

Memang, tidak semua pemain memiliki kemampuan bersepak bola yang bagus. Tapi, dari setiap tim pasti ada beberapa pemain yang menonjol daripada lainnya. Dari dua tim yang tampil di final kemarin contohnya. Bratanero memiliki keunggulan pada lini tengah mereka, tak lepas dari performa apik antara dua pemain poros tengah mereka, nomor 10 yang merangkap sebagai kapten dan nomor 17. Kedua pemain ini yang memimpin permainan Bratanero hingga seringkali membuat lini belakang Batatama kerepotan. 

Tidak beruntungnya, kiper Batatama juga tampil apik kemarin. Serangan Bratanero berhasil selalu ia mentahkan. Bahkan, tendangan penalti saat menit-menit akhir babak kedua berhasil ia gagalkan. Menariknya, kiper Batatama ini masih muda, sangat muda malah. Ia masih kelas 2 SMK, bahkan, usianya belum 17 tahun, tapi fisiknya sudah cukup bagus. Ketenangan dan kesigapannya pun sudah layaknya kiper berpengalaman. 

Pada akhirnya, bukan soal siapa yang juara meski dengan juara dapat meningkatkan gengsi kepada rivalnya. Tapi di sini, di turnamen ini, adalah wadah bagi mereka untuk mengasah atau sekadar membuktikan sejauh mana kemampuan olah bola mereka. 

Apresiasi untuk para praktisi sepak bola di sana yang terus menggelorakan semangat bersepak bola. Harapannya, turnamen di Kecamatan Bener ini akan terus diadakan setiap tahunnya, semakin banyak tim yang tampil, semakin banyak pemain yang bisa menunjukkan kemampuan olah bola, semakin banyak pula yang akan tahu tentang mereka. Secara sederhana pun tidak apa-apa. Tapi kalau bisa digelar dengan lebih baik lagi, kenapa tidak?

-
sumber foto: Denny Pamungkas